“Pencemaran Tanah dan Dampaknya”

30 01 2009

KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya artikel yang berjudul “ Pencemaran Tanah dan Dampaknya ” ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa artikel ini disusun dengan sangat sederhana karena dalam penyusunannya dalam waktu yang relatif singkat. Sesuai dengan pepatah “Tiada gading yang tak retak“ maka dari itu, atas kekurangan – kekurangan yang ada maka penulis harapkan para pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini dapat semakin sempurna.

Bukit Jimbaran, Januari 2009

Ttd

Latar Belakang

Tanah adalah bagian penting dalam menunjang kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Kita ketahui rantai makanan bermula dari tumbuhan. Manusia, hewan hidup dari tumbuhan. sebagian besar makanan kita berasal dari permukaan tanah, walaupun memang ada tumbuhan dan hewan yang hidup di laut. Sudah sepatutnya kita menjaga kelestarian tanah sehingga bisa mendukung kehidupan di muka bumi ini. Sebagaimana pencemaran air dan udara, pencemaran tanah pun merupakan akibat kegiatan manusia.

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian kerusakan tanah untuk produksi bio massa: “Tanah adalah salah atu komponen lahan berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.”

Tetapi akibat kegiatan manusia, banyak terjadi kerusakan tanah. Di dalam PP No. 150 th. 2000 disebutkan bahwa “Kerusakan / pencemaran tanah untuk produksi biomassa adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah”.

PEMBAHASAN

Pengertian Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial; penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Dampak dari Pencemaran Tanah

Pada kesehatan Dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan tergantung pada tipe polutan, jalur masuk ke dalam tubuh dan kerentanan populasi yang terkena. Kromium, berbagai macam pestisida dan herbisida merupakan bahan karsinogenik untuk semua populasi. Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak, serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi.

Paparan kronis (terus-menerus) terhadap benzena pada konsentrasi tertentu dapat meningkatkan kemungkinan terkena leukemia. Merkuri (air raksa) dan siklodiena dikenal dapat menyebabkan kerusakan ginjal, beberapa bahkan tidak dapat diobati. PCB dan siklodiena terkait pada keracunan hati. Organofosfat dan karmabat dapat dapat menyebabkan ganguan pada saraf otot. Berbagai pelarut yang mengandung klorin merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat. Terdapat beberapa macam dampak kesehatan yang tampak seperti sakit kepala, pusing, letih, iritasi mata dan ruam kulit untuk paparan bahan kimia yang disebut di atas. Yang jelas, pada dosis yang besar, pencemaran tanah dapat menyebabkan kematian.

Pencemaran tanah juga dapat memberikan dampak terhadap ekosistem. Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut. Bahkan jika efek kimia pada bentuk kehidupan terbawah tersebut rendah, bagian bawah piramida makanan dapat menelan bahan kimia asing yang lama-kelamaan akan terkonsentrasi pada makhluk-makhluk penghuni piramida atas. Banyak dari efek-efek ini terlihat pada saat ini, seperti konsentrasi DDT pada burung menyebabkan rapuhnya cangkang telur, meningkatnya tingkat kematian anakan dan kemungkinan hilangnya spesies tersebut.

Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.

Cara Menanggulangi Pencemaran Tanah

Penanganan khusus terhadap limbah domestik yang berjumlah sangat banyak diperlukan agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme (biodegradable) dan sampah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Akan sangat baik jika setiap rumah tangga bisa memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni organik dan anorganik dalam dua wadah berbeda sebelum diangkut ketempat pembuangan akhir.

Sampah organik yang terbiodegradasi bisa diolah, misalnya dijadikan bahan urukan, kemudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran hewan dapat dibuat biogas dll sehingga dalam hal ini bukan pencemaran tanah yang terjadi tetapi proses pembusukan organik yang alami.

Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara penanganan yang terbaik dengan daur ulang. Kurangilah penggunaan pupuk sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti pestisida. Limbah industri harus diolah dalam pengolahan limbah, sebelum dibuang kesungai atau kelaut.

Kurangilah penggunaan bahan-bahan yang tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme (nonbiodegradable). Salah satu contohnya adalah dengan mengganti plastik sebagai bahan kemasan/pembungkus dengan bahan yang ramah lingkungan seperti dengan daun pisang atau daun jati.

Simpulan dan Saran

Kekayaan kita sebagian besarnya diperoleh dari tanah. Kehidupan di bumi ini sangat bergantung pada tanah. Tumbuhan memperoleh air dan mineral dari tanah. Makanan yang kita peroleh dan hewan bergantung pada tumbuhan. Jadi makanan kita sebenarnya berasal dari tanah.

Bahan bahan yang kita perlukan dalam memenuhi kebutuhan dapat diperoleh dari tanah. Karenanya mari kita menghindari pencemaran tanah bersama-sama menjaga kelestariannya, demi kelangsungan anak, cucu kita dimasa datang.





“Undang – Undang Pornografi dan Pornoaksi”

30 01 2009

Latar Belakang

Rancangan Undang-undang (RUU) anti pornografi dan pornoaksi kini telah disahkan menjadi UU pornografi (UUP). Sejak lama UU ini menjadi polemik yang berkepanjangan dalam rangka pengesahannya. Banyak pro dan kontra yang muncul ke permukaan mengenai pornografi dan pornoaksi. Bahkan demo besar-besaran juga telah dilakukan baik oleh pendukung UU ini atau pihak yang menentang UU ini.

Mencoba untuk berfikir jernih sejenak kita harus melihat latar belakang tercetusnya ide pembentukan UU ini. UU ini merupakan wujud kekhawatiran anggota legislatif yang melihat betapa rusaknya moral anak bangsa akibat peredaran segala macam bentuk produk pornografi. Pornografi sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni porno yang berarti tak berbusana, telanjang, cabul, mesum dan graph yang berarti tulisan atau gambar. Maka dapat didefinisikan pornografi adalah segala macam bentuk penggambaran cabul mengenai tubuh manusia. Secara istilah pornografi adalah segala macam bentuk penggambaran tubuh manusia yang bersifat mesum serta menimbulkan syahwat baik dalam bentuk bacaan,tulisan,ataupungambar.

Melatarbelakangi pembuatan UU ini adalah melihat pada kenyataan bahwa pornografi di Indonesia sudah sangat merajalela. Bahkan terkesan bebas tanpa adanya regulasi yang membatasi peredarannya. Lihatlah berapa banyak anak sekolah mulai dari SMA sampai anak SD yang belum pernah melihat situs porno. Sebagian besar anak Indonesia sudah pernah mengakses situs porno. Produk-produk yang menyajikan pornografi pun melimpah ruah di pasaran. Mulai dari bentuk VCD, DVD, buku porno, tabloid, majalah, situs, bahkan sampai dengan korek porno yang sempat menggegerkan masyarakat.

Berbagai reaksi mengemuka terkait kecemasan terhadap ancaman bahaya pornografi. Kekhawatiran masyarakat ini kemudian diakomodir oleh DPR yang mencoba merumuskan UU ini. Sebagian besar penentang argumen UU ini berpendapat bahwa UU ini terlalu banyak masuk ke dalam ruang privat warga negara. Argumen ini memang terlihat logis, namun perlu dicermati lebih lanjut. Kita harus merujuk pada pembukaan UUD 1945 alinea 4 yang secara jelas menyatakan bahwa Indonesia menganut konsep negara kesejahteraan (wellfaarstaat). Konsekuensi logis dari konsep negara kesejahteraan adalah negara dapat masuk ke dalam sendi kehidupan masyakat.

Berbeda dengan konsep negara sebagai penjaga malam (nachwatchker staat) dimana negara hanya berperan sebagai penjaga keamanan saja. Sehingga negara tidak perlu mencampuri urusan warga negara. Dalam konsep negara kesejahteraan negara dapat mengatur warganegara sampai pada urusan terkecil sekalipun. Sehingga argumen penentang UU ini adalah bertentangan dengan konsepsi dasar dari negara.

Namun isi pasal RUU APP ini ternyata menimbulkan kontroversi di masyarakat. Kelompok yang mendukung diantaranya MUI, ICMI, FPI, MMI, Hizbut Tahrir, dan PKS. MUI mengatakan bahwa pakaian adat yang mempertontonkan aurat sebaiknya disimpan di museum. Sedangkan kelompok yang menentang berasal dari aktivis perempuan (feminisme), seniman, artis, budayawan, dan akademisi.

Dari sisi substansi, RUU ini dianggap masih mengandung sejumlah persoalan, antara lain RUU ini mengandung atau memuat kata-kata atau kalimat yang ambigu, tidak jelas, atau bahkan tidak bisa dirumuskan secara absolut. Misalnya, eksploitasi seksual, erotis, kecabulan, ketelanjangan, aurat, gerakan yang menyerupai hubungan seksual, gerakan menyerupai masturbasi, dan lain-lain.

Pihak yang menolak mengatakan bahwa pornografi yang merupakan bentuk eksploitasi berlebihan atas seksualitas, melalui majalah, buku, film dan sebagainya, memang harus ditolak dengan tegas. Tapi tidak menyetujui bahwa untuk mencegah dan menghentikan pornografi lewat sebuah undang-undang yang hendak mengatur moral dan akhlak manusia Indonesia secara pukul rata, seperti yang tertera dalam RUU APP atau RUU Porno ini, tapi seharusnya lebih mengatur penyebaran barang-barang pornografi dan bukannya mengatur soal moral dan etika manusia Indonesia.

Bab I Pasal 1 tentang Ketentuan Umum pada draft terakhir RUU Pornografi menyebutkan, pornografi adalah materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat. Definisi ini, menunjukkan longgarnya batasan “materi seksualitas” dan menganggap karya manusia, seperti syair dan tarian (gerak tubuh) di muka umum, sebagai pornografi. Kalimat membangkitkan hasrat seksual atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat bersifat relatif dan berbeda di setiap ruang, waktu, maupun latar belakang.

Sebenarnya UU ini mempunyai arti yang sangat penting dalam pembentukan generasi muda. Jangan sampai generasi muda penerus bangsa seperti kita rusak oleh setan pornografi. Antara maksiat dan negara mempunyai korelasi yang cukup kuat. Ketika sebuah negara yang di dalamnya begitu banyak kemaksiatan maka kita akan melihat negara tersebut tidak mampu menciptakan peradaban. Kita melihat bagaimana Amerika yang begitu bebas dan gaya hidup free sex sudah membudaya saat ini rontok begitu saja. Karena pada dasarnya Amerika dibangun atas dasar sebuah peradaban material yang semu. Peradaban yang kuat adalah peradaban yang dibangun atas dasar ilmu pengetahuan.

Indonesia sangat lemah dalam memberikan jaminan kepada warganegaranya. Bagaimana seharusnya negara memberikan jaminan kepada generasi muda bangsa untuk tumbuh dan berkembang tanpa teracuni oleh pornografi. Konsep kebebasan dan HAM yang didengungkan para aktivis terlalu berlebihan. Argumen tentang kebebasan berekspresi dijadikan dalih untuk menolak UUP. Bahkan seorang tokoh muslim yang dikatakan sebagai “guru bangsa” sekalipun ikut menentang UUP. Mengherankan ketika seorang “guru” malah mengajarkan anaknya untuk membiarkan maksiat. Begitu bobroknya akhlak bangsa ini sampai seorang guru melegalkan aksi ketelanjangan.

Oleh sebab itulah, Undang-Undang Pornografi sangatlah penting untuk kita kaji lebih dalam, agar segala permasalahan seputar pemberlakuan undang-undang ini. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah menyangkut masalah batasan dari undang-undang tersebut, isi, serta hubungan undang-undang tersebut bila dilihat dari perspektif nilai-nilai Pancasila.

Definisi Pornografi

Di dalam ENSI Indonesia jilid 5 disebutkan definisi Pornografi (Yun: porne = perempuan jalang; graphein = menulis) adalah: Bahan yang dirancang dengan sengaja dan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks. Dengan demikian isi karya seni dan sastra serta naskah-naskah kedokteran yang sering terang-terangan tidak bersifat pornografi, walaupun dalam hal-hal tertentu mungkin dianggap cabul.

Bila digaris bawahi, Mengapa karya seni dan buku-buku kedokteran yang menggambarkan organ-organ seksual secara terang-terangan (vulgar) bahkan bila dianggap cabul sekalipun tidak dapat dikwalifikasikan sebagai pornografi? Jawabannya adalah karena gambar-gambar tersebut dibuat bukan semata-mata untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks. Jadi, sekalipun gambar-gambar tersebut dapat membangkitkan gairah seksual, namun karena tidak semata-mata ditujukan untuk membangkitkan gairah seksual, maka tidak dapat disebut pornografi. Itulah yang membedakan antara karya seni/karya sastra/naskah ilmu kedokteran yang berisi gambar-gambar organ seksual dengan Pornografi yang berisi gambar-gambar penari telanjang yang menunjukkan organ seksual atau aksi-aksi panggung penari telanjang yang menampakkan organ seksual yang semata-mata dimaksudkan untuk membangkitkan nafsu birahi dalam seks.

Bandingkanlah definisi Pornografi menurut pasal 1 UU.Pornografi yang saya kutip dari internet sebagai berikut:

Pornografi adalah hasil karya manusia yang memuat materi seksualitas dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, atau bentuk-bentuk pesan komunikasi lain dan/atau melalui media yang dipertunjukkan di depan umum dan/atau dapat membangkitkan hasrat seksual serta melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat dan/atau menimbulkan berkembangnya pornoaksi dalam masyarakat.

Jadi, berdasarkan definisi Pornografi dalam UU Pornografi, suatu Karya Seni/Sastra/naskah kedokteran yang menggambarkan organ seksual, termasuk aksi panggung seni budaya yang dapat membangkitkan hasrat seksual dapat dikwalifikasikan sebagai Pornografi.

Sekalipun ada pasal 12 yang mengatur pembatasan berlakunya larangan pornografi, namun tetap saja suatu Karya Seni/Sastra/naskah kedokteran yang menggambarkan organ seksual bahkan aksi panggung seni budaya yang dapat membangkitkan hasrat seksual dapat dikwalifikasikan sebagai Pornografi. Hanya saja pornografi yang demikian ini tidak dilarang. Dengan kata lain, ada pornogarfi yang dilarang dan ada pornografi yang tidak dilarang, namun kedua-duanya tetap saja sama-sama pornografi. Jadi, Para dokter atau mahasiswa kedokteran yang mengarang atau mempelajari buku-buku ilmu kedokteran yang berisi gambar-gambar organ-organ seksual berarti telah melakukan perbuatan membuat atau menggunakan buku-buku yang berisi Pornografi. Demikian juga seni budaya masyarakat tertentu yang atraktif dan sensual dapat disebut Pornografi.

Secara ringkas, definisi pornografi di dalam RUU ini adalah: “materi seksualitas melalui media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”.

Para pengeritik RUU menganggap, definisi ini kabur karena penerapannya melibatkan tafsiran subjektiif mengenai apa yang dimaksudkan dengan “membangkitkan hasrat seksual” dan “melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat”. Karena kelemahan itu, para pengeritik menganggap RUU sebaiknya ditunda atau dibatalkan pengesahannya.

Kritik semacam ini tidak berdasar karena definisi soal pornografi yang lazim berlaku di seluruh dunia – kurang lebih – seperti yang dirumuskan dalam RUU itu. Ensiklopedi Encarta 2008, misalnya menulis pornografi adalah film, majalah, tulisan, fotografi dan materi lainnya yang eksplisit secara seksual dan bertujuan untuk membangkitkan hasrat seksual. English Learner’s Dictionary (1986-2008) mendefinisikan pornografi sebagai literatur, gambar film, dan sebagainya yang tidak sopan (indecent) secara seksual.

Di banyak negara, pengaturan soal pornografi memang lazim berada dalam wilayah multi-tafsir ini. Karena itu, pembatasan tentang pornografi bisa berbeda-beda dari tahun ke tahun dan di berbagai daerah dengan budaya berbeda. Sebagai contoh, pada tahun 1960an, akan sulit ditemukan film AS yang menampilkan adegan wanita bertelanjang dada, sementara pada abad 21 ini, bagian semacam itu lazim tersaji di film-film yang diperuntukkan pada penonton 17 tahun ke atas. Itu terjadi karena batasan “tidak pantas” memang terus berubah.

Soal ketidakpastian definisi ini juga sebenarnya lazim ditemukan di berbagai UU lain. Dalam KUHP saja misalnya, definisi tegas “mencemarkan nama baik” atau “melanggar kesusilaan” tidak ditemukan. Yang menentukan, pada akhirnya, adalah sidang pengadilan. Ini lazim berlaku dalam hukum mengingat ada kepercayaan pada kemampuan akal sehat manusia untuk mendefinisikannya sesuai dengan konteks ruang dan waktu.

UU APP Ditinjau dari Perspektif Nilai-Nilai Pancasila

UU Pornografi sebagai sebuah instrumen hukum positif pencegahan dan pemberangusan berbagai tindak pornografi, dalam berbagai kandungannya, tak dapat disangkal mempunyai beberapa kontradiksi apabila ditinjau dari sudut kandungan nilai-nilai Pancasila pada sila 2,3 dan 5. Berbagai elemen masyarakat anti UU pornografi bahkan mengklaim bahwa penerapan UU pornografi dapat dikategorikan batal hukum apabila ditinjau dari sikap mental yang telah digariskan oleh Pancasila sendiri.

Pancasila sila kedua dengan kandungan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”, mempunyai aspek “praksis”, yaitu pedoman penghayatan dan pengamalan sebagaimana yang dijabarkan dalam P4, yang intinya adalah : pengakuan bahwa setiap manusia memiliki harkat dan martabat yang sama, yang dengan demikian diakui adanya persamaan derajat tanpa membedakan suku bangsa, maupun kepercayaan yang dianutnya. Kedua, pengembangan sikap toleransi antara sesama penduduk Indonesia. Ketiga, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan . Dalam sila ketiga sendiri, pedoman penghayatan meliputi hal berikut : Pertama, prioritas bangsa Indonesia ditempatkan pada usaha menjaga keutuhan persatuan nasional, dan penempatan kepentingan bangsa diatas kepentingan pribadi dan golongan. Kedua, rela berkorban demi bangsa dan Negara. Ketiga, pengembangan persatuan Indonesia atas dasar kemajemukan yang terkandung dalam asas Bhinneka Tunggal Ika. Ketiga, memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa. Keempat, pemupukan suatu semangat mental cinta tanah air . Sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, memuat beberapa prinsip, yaitu : Penghormatan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh orang lain, adanya suatu sikap adil dalam perlakuan terhadap seluruh komponen bangsa, dalam hal ini suku bangsa, agama, dan lain-lain identitas primordial .

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan diatas, terdapat beberapa permasalahan dalam prinsip-prinsip Pancasila yang secara inheren menyebabkan adanya “benturan” dengan beberapa prinsip pokok pelaksanaan Undang-Undang Pornografi. Permasalahan ini menjadi esensial karena, bagaimanapun, Pancasila dalam struktur hirarki ideologi negara menduduki tempat teratas dan menjadi suatu pedoman hukum umum dimana semua hukum harus merefleksikan dirinya sendiri kembali menuju Pancasila sebagai tolak ukur.

Beberapa hal yang bertolak belakang dengan semangat Undang-Undang Pornografi sendiri dapat ditemukan dalam beberapa prinsip Pancasila, yaitu : Penjunjungan tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, pengembangan persatuan Indonesia yang didirikan diatas pondasi kemajemukan yang terkandung dalam asas Bhinneka Tunggal Ika,dan penghormatan terhadap hak-hak yang dimiliki oleh setiap komponen bangsa.

Penjunjungan tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan disini dapat diartikan sebagai adanya usaha untuk meletakkan manusia-entah secara individual maupun kolektif- sebagai subyek penentu tolak ukur pengembangan entitas kebudayaan. Dan tujuan kebudayaan nasional sendiri, seperti telah disebutkan, harus mengacu kepada tujuan yang telah ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945 yang landasan filosofisnya terkandung dalam Pencasila. Kebudayaan sendiri, sebagai sebuah konsep keilmuan, telah menjadi suatu lahan perdebatan, dan tak kurang 168 definisi yang telah dikemukakan untuk menjelaskan pengertian obyektif kebudayaan itu sendiri . Kebudayaan juga mencakup aspek yang sangat luas, karena kebudayaan tidak hanya berisi hasil proses pikiran manusia-baik yang abstrak maupun abstrak yang telah dikonkretkan-melainkan juga suatu usaha pewarisan nilai-nilai dan norma entitas budaya tertentu yang diwujudkan dalam berbagai tindakan sosial yang selain operasional juga bersifat praksis . Kebudayaan Indonesia sebagai pokok landasan kebudayaan nasional, juga mengakui adanya kebudayaan daerah sebagai komponen penyusunnya, kebudayaan daerah tersebut selain diakui, Pancasila juga mengamanatkan agar kebudayaan daerah dapat dilestarikan sebagai ciri kekayaan kebudayaan nasional. Pranata sosial yang mewadahi kebudayaan juga bermacam-macam, mulai dari agama, filsafat, ideologi, kesusasteraan, seni, hukum, dan politik. Khusus mengenai pranata agama, Kuntowijoyo dalam artikelnya, Agama dan Demokratisasi di Indonesia, mengusulkan adanya usaha untuk melakukan objektivikasi berbagai komponen agama yang eksklusif menjadi suatu norma-norma universal yang bersifat inklusif. Sehingga dalam konteks Indonesia, obyektivikasi pada Pancasila berarti Pancasila mengakui nilai-nilai agama, namun yang disesuaikan dengan konsep pluralitas kebudayaan Indonesia. Hal ini menyerupai-seperti yang dikemukakan Max Weber- adanya suatu etika protestan yang menjadi dasar industrialisasi Amerika, akan tetapi keprotestanannya sendiri lenyap dalam suatu proses budaya yang baru. Mengingat ciri kebudayaan Indonesia yang luas, dan terbagi lagi menjadi berbagai sub budaya lokal, hal ini secara implisit bertentangan dengan semangat maupun isi dari pasal Undang-Undang Pornografi. Oleh karenanya, Undang-Undang Pornografi hingga sekarang pun masih ditentang secara keras oleh komponen masyarakat pluralis dan kalangan budayawan di Indonesia. Implementasi Undang-Undang Pornografi dinilai dapat membahayakan aspek kemajemukan bangsa Indonesia dan mengekang berbagai manifestasi kebudayaan dalam ranah publik. Hal ini seperti yang dikemukakan masyarakat Bali yang tergabung dalam kelompok Komponen Rakyat Bali (KRB) yang mendeklarasikan penolakan keras adanya Undang-Undang Pornografi yang dipandang diskriminatif terhadap suku tertentu dan mengekang kretifitas dalam bidang kebudayaan .

Apabila ditinjau secara sosiologis, kontroversi pro kontra Undang-Undang Pornografi sendiri dapat dilihat sebagai adanya tabrakan kultural antara dua komponen masyarakat (sphere) yang berbeda. Menurut Bourdieu, aktor dalam masyarakat dibesarkan dalam suatu lingkup habitus tertentu, dimana dalam setiap habitus tersebut sudah dilengkapi oleh seperangkat norma dan nilai dan pranata-pranata sosial untuk menjalani kehidupan dan hal ini dapat disebut sebagai modal awal untuk hidup dalam masyarakat. Baginya, habitus dapat diejawantahkan, yang dalam hal ini berarti bisa dilihat secara obyektif, melalui gerakan tubuh yang bahkan kerap dianggap remeh orang, semisal, membuang ingus, cara berjalan, cara makan, dan lain-lain . Konsep habitus ini dapat diandaikan dengan seseorang yang diangkat menjadi pimpinan suatu organisasi, akan tetapi terdapat pihak-pihak tertentu yang menolaknya, penolakan tersebut didasarkan atas ketidaksetujuan akan berbagai perangkat sistem atau “modal budaya” yang dimiliki oleh orang tersebut. Ketika konsep habitus diatas dikorelasikan dengan permasalahan Undang-Undang Pornografi sekarang ini, maka didapatkan adanya pertentangan antara dua kelompok yang “berbeda habitus”. Disatu sisi, konsep Undang-Undang Pornografi, yang secara mayoritas didukung oleh kaum agamawan-terutama islam- memiliki pandangan-yang terinstitusionalisasi melalui habitusnya-, bahwa adanya Undang-Undang Pornografi merupakan suatu yang rasional, mengingat bahwa memang demikian nilai dan norma yang sudah terinstitusionalisasi dalam pikiran mereka. Kitab suci dan berbagai Sunnah nabi, terutama, adalah rujukan utama berbagai nilai yang diyakini sebagai sumber utama “rasionalitas”. Dilain pihak, komponen masyarakat yang kontra terhadap Undang-Undang Pornografi sendiri sudah termindset bagi mereka akan kebebasan dalam hal ekspresi kebudayaan sebagai suatu hal yang asasi sifatnya bagi manusia itu sendiri.

Hal yang perlu diperhatikan dalam paparan diatas adalah kekhawatiran apabila masing-masing pihak yang bertikai mengenai UU Pornografi, tidak dapat “keluar dari kungkungan habitus mereka”, dan kemudian bertoleransi satu sama lain untuk kemudian mengadakan jalan kompromi untuk menghindari konflik. Konflik diantara dua komponen masyarakat yang berbeda habitus, bisa menimbulkan adanya duel habitus, yang pada akhirnya apabila tidak dapat ditangani secara strategis, tidak tertutup kemungkinan akan terancamnya eksistensi persatuan kesatuan nasional.

Dualisme Pancasila

Sub-Bab sebelumnya telah menguraikan secara singkat dualisme pancasila atas Rancangan Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Sila ke-1 yang mengisyaratkan nilai-nilai transendensi tampak sejalan dengan RUU APP tersebut, namun tak demikian halnya dengan sila ke-2, ke-3 dan ke-5 pancasila yang mengindikasikan kontradiksinya atas RUU APP. Oleh karena itu, dalam sub-Bab ini kami berupaya menjelaskan lebih lanjut mengapa dualisme Pancasila dapat terjadi, yakni melalui penelusuran sejarah terbentuknya pancasila berikut latar belakang pemikiran penyusunnya-Soekarno. Secara garis besar kami menganggap terjadinya dualisme pancasila disebabkan oleh pancasila yang kerap dicap sebagai pseudo ideologi ‘ideologi bayangan atau tak jelas’.

Pancasila untuk pertama kali lahir melalui pidato Soekarno 1 Juni 1945. Dalam pidatonya Soekarno mengemukakan 5 butir pedoman kehidupan bangsa yang mulanya disebut dengan “panca dharma” (lima kewajiban), namun atas masukan Muhammad Yamin, panca dharma dirubah menjadi pancasila yakni kebangsaan Indonesia, prikemanusiaan, mufakat, kesejahteraan sosial dan ketuhanan. Di satu sisi, apabila penelusuruan lebih jauh terkait latar belakang pemikiran Soekarno dilakukan maka ditemui bahwa sejak muda alam pemikirannya dibentuk oleh Islam, Nasionalisme dan Marxisme, bahkan artikel pertama Soekarno yang diterbitkan pada surat kabar “Fikiran Rakyat” berjudul hal yang sama. Pemikiran Islam ia dapatkan ketika tinggal bersama keluarga HOS Cokroaminoto yang tergabung dalam organisasi Muhammadiyah, nasionalisme ia dapatkan melalui pendidikannya di sekolah, sedangkan marxisme ia dapatkan melalui Alimin.

Pada perkembangannya, Soekarno yang kemudian didaulat sebagai presiden RI setelah Indonesia merdeka, melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 ia menggeser landasan kehidupan bangsa-pancasila-menjadi NASAKOM atau Nasionalis, Agamis dan Komunis yang pada dasarnya merupakan wujud kentara atau spesifik pancasila. Penerimaan pancasila atas komunisme bukannya tanpa alasan sama sekali, Soekarno sempat menegaskan hakekat pancasila yang dapat diperas menjadi “trisila” yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi dan ketuhanan, tak hanya sampai di situ, menurutnya pancasila dapat diperas kembali menjadi “ekasila” yakni gotong-royong, dengan demikian inti dari pancasila bukanlah transendensi melainkan gotong-royong.

Di satu sisi, pengejawantahan pancasila melalui NASAKOM tampak melalui sila pertama yang mewakili agamis, sila kedua mempresentasikan marxisme yakni humanisme terkait masyarakat tanpa kelas, sila ketiga mengisyaratkan nasionalisme, sila keempat terkait nilai-nilai demokrasi yang dimiliki baik Islam maupun Komunis serta sila kelima mengisyaratkan komunisme terkait ekonomi sama rasa-sama rata. Lebih jelasnya, skema perbandingan ideologi syarat disertakan guna mempermudah pemahaman atas pancasila sebagai pseudo ideologi.

Islam

Sistem sosial : syariah

Sistem ekonomi : syariah

Sistem politik : khilafah

Landasan : Al-Quran dan As-Sunnah

Sosialisme-Komunis

Sistem sosial : dialektika sejarah

Sistem ekonomi : ketiadaan hak milik sebagai faktor fundamental terciptanya “kelas sosial”

Sistem politik : ….

Landasan : Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis

Kapitalisme

Sistem sosial : sekuler, liberal

Sistem ekonomi : kapitalisme, liberalisme ekonomi, pasar bebas

Sistem politik : demokrasi liberal, nation-state, national interest

Landasan : Du Contract Social, Two Treatise On Governance, The Inquiry To The Nature and Causes of The Wealth of Nations

Melalui skema penjabaran ideologi di atas tampaklah jelas muatan pseudo dalam pancasila, ianya merupakan konstruksi berbagai ideologi yang ada, bahkan kapitalisme-terkait nasionalisme. Dalam hal ini kita melihat kemiripan pola pikir eklektik “comot sana, comot sini” Soekarno layaknya Sun Yat Sen melalui San Min Chu I atau The Three People Principles yakni Nasionalisme, Sosialisme dan Demokrasi. Upaya menggabungkan berbagai konsep yang pada hakekatnya saling bertentangan sedemikian rupa jelas berimplikasi pada kekacauan nilai dan pemahaman.

Di sisi lain yang tak kalah mengejutkan, terdapat analisis Abdullah Pattani terkait pancasila yang dipengaruhi Qhams Qanun ‘lima sila’ dalam organisasi “Freemansonry” yakni monotheisme kultural, kemanusiaan, nasionalisme, demokrasi dan sosialisme. Di satu sisi, Soekarno sendiri pernah berkata, “Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, ‘jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan sedunia’. Dalam hal ini Pattani menegaskan bahwa A. Baars, guru Soekarno adalah seorang yahudi pengikut freemansonry.

Tak hanya berkutat pada pancasila sebagai pseudo ideologi, etika dan praksisnya dalam kehidupan nyata pun masih dipertanyakan hingga kini. Dalam hal ini, beberapa prilaku Soekarno menjadi tanda tanya besar penerapan pancasila, gonta-ganti istri tanpa merasa risih menceraikan istri sebelumnya, berjanji pada Daud Breuh dan mengingkari serta menghardik dalam pertemuan internasional dengan berkata, “go to hell with your aid!” pada IMF. Dengan demikian, di samping statusnya sebagai pseudo ideologi, pancasila pun praktis tak memiliki praksis dan implementasi etika yang jelas. Beberapa hal tersebutlah yang kiranya turut menciptakan samarnya penilaian pancasila dalam memandang permasalahan pornografi dan pornoaksi sehingga menciptakan “dualisme”.





Pura Bukit Sinunggal dan Sejarahnya

23 01 2009

Puji Syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nya artikel yang berjudul “ Pura Bukit Sinunggal dan Sejarahnya ” ini dapat diselesaikan.

Penulis menyadari bahwa makalah ini disusun dengan sangat sederhana karena dalam penyusunannya dalam waktu yang relatif singkat. Sesuai dengan pepatah “Tiada gading yang tak retak“ maka dari itu, atas kekurangan – kekurangan yang ada maka penulis harapkan para pembaca memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga nantinya makalah ini dapat semakin sempurna.

Kubutambahan, Desember 2008

Ttd

Latar Belakang

Sejarah merupakan suatu hal yang riil dimana secara pengertian sempitnya sejarah itu sudah terjadi dan bahkan terlewatkan. Yang menurut R. Moh Ali sejarah ada 3 pengertian, yaitu Sejarah adalah kejadian-kejadian, peristiwa-peristiwa seluruhnya yang berkaitan dengan kehidupan manusia, Sejarah adalah cerita yang tersusun secara sistematis (serba teratur dan rapi),dan Sejarah adalah ilmu yang menyelidiki perkembangan peristiwa dan kejadian-kejadian pada masa lampau.

Dari keseluruhan itu dapat disimpulkan sejarah itu ialah suatu kejadian–kejadian ataupun peristiwa pada masa lampau yang berkaitan dengan kehidupan manusia, dan tersusun secara sistematis. Sejarah dapat meninggalkan sesuatu baik benda, bangunan atapun semacamnya yang biasa disebut peninggalan sejarah. Dimana peninggalan sejarah perlu dijaga dan dilestarikan agar generasi anak cucu dapat melihat ataupun menelitinya. Apalagi peninggalan sejarah itu merupakan sejarah lokal yang sering kita dengar, sering kita kunjungi atau datangi dan sebagainya.

Sejarah Pura Bukit Sinunggal

Pura Pucak Bukit Sinunggal merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Bali Utara, Pura ini terletak di Desa Tajun, Kubutambahan. Menurut sejarahnya yang dalam buku “Pura Bukit Tunggal Dalam Prasasti” disusun Ketut Ginarsa, Balai Penelitian Bahasa, Singaraja, 1979, sebelum tahun 914 Masehi pura ini menjadi milik raja yang dipuja masyarakat Bali Utara pada zaman itu. Secara administratif Pura bukit sununggal terletak di desa tajun, kecamatan kubu tambahan, kebupaten buleleng. Seperti namanya, Pura ini terletak di sebuah bukit dengan pemandangan yang asri yang dikenal dengan bukit sinunggal.

Untuk sampai di lokasi pura bukit sinunggal, kita dapat melalui jalur denpasar –kintamani, pucak penulisan melewati desa dausa menuju ke desa tajun. Jarak pura dari kota Buleleng kurang lebih 30 km dan dari kota denpasar kurang lebih 98 km.Pura ini dulunya bernama hyang bukit tunggal namun masyarakat biasa menyebutkan dengan pura bulit sinunggal. Sebelumnya mandala pura ini cukup sempit dengan pelinggih pelinggih yang sederhana, setelah didakan beberapa pemugaran kini pura tampak indah dan asri.

Dalam sejarahnya disebutkan bahwa pada abad ke 5 ida bhatara sudah melingga di pura ini yang konon hadir dari Gunung Himalaya, India diiringi Batara Ganesa. Karena itu Ganesa terdapat di dalam pelinggih utama di Meru Tumpang Pitu. Didalam prasasti hyang bukit tunggal juga disebutkan bahwa pura bukit sinunggal dulunya disungsung oleh raja raja dari seluruh bali.

Dimana sebenarnya Pura ini merupakan salah satu sisa-sisa peninggalan Kerajaan Bedahulu. Berdasarkan prasasti Raja Sri Kesari Warmadewa tertanggal 19 Agustus 914, Pura Gunung Sinunggal yang dahulu disebut Hyang Bukit Tunggal terdapat di Desa Air Tabar, daerah Indrapura. Desa Indrapura kini disebut Desa Depaa. Sedangkan yang memelihara Pura Bukit Tunggal itu adalah Desa Air Tabar. Di desa itu terdapat tokoh-tokoh masing-masing Mpu Danghyang Agenisarma, Sri Naga, Bajra dan Tri.

Keempat tokoh masyarakat itu berpangkat Ser Tunggalan, Lampuran. Mereka bertugas mempersatukan masyarakat desa serta melaporkan keadaan dan peristiwa yang terdapat di Desa Air Tabar dan sekitar Pura Bukit Tunggal kepada Sri Paduka Raja Kesari Warmadewa di Istana Singhamandawa. Pada saat itu Istana Singhamandawa terletak di antara Desa Bedulu dan Desa Pejeng sekarang.

Sesuai peraturan adat zaman dulu, letak desa pengemong ada di sebelah utara Pura Bukit Tunggal itu. Seperti halnya desa kecil lainnya yang masuk dalam wilayah Desa Julah, Desa Air Tabar juga sering didatangi perampok. Untuk menjaga keamanan, masyarakat desa itu berpindah tempat menuju ke selatan Pura Bukit Tunggal. Di sana mereka membangun desa baru yang disebut Desa Tanjung. Lama-kelamaan menjadi Desa Tajun atau Tetajun.

Kerajaan Bedahulu atau Bedulu

Pura Bukit Sinunggal merupakan salah satu peninggalan sejarah dimana diperkirakan pura ini ada pada masa dimana sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Bedahulu” berkembang dan mencapai kejayaannya.

Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng (baca: pèjèng) atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa. Penguasa terakhir kerajaan Bedulu (Dalem Bedahulu) menentang ekspansi kerajaan Majapahit pada tahun 1343, yang dipimpin oleh Gajah Mada, namun berakhir dengan kekalahan Bedulu. Perlawanan Bedulu kemudian benar-benar padam setelah pemberontakan keturunan terakhirnya (Dalem Makambika) berhasil dikalahkan tahun 1347.

Setelah itu Gajah Mada menempatkan seorang keturunan brahmana dari Jawa bernama Sri Kresna Kepakisan sebagai raja (Dalem) di pulau Bali. Keturunan dinasti Kepakisan inilah yang di kemudian hari menjadi raja-raja di beberapa kerajaan kecil di Pulau Bali.

Untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan kerajaan ini dipimpin oleh raja-raja yang turun temurun melaksanakan dan memerintah kerajaan Bedulu atau Bedahulu.

Berikut Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Bedulu atau Bedahulu :

1. Sri Wira Dalem Kesari Warmadewa – (882-913)

2. Sri Ugrasena – (915-939)

3. Agni

4. Tabanendra Warmadewa

5. Candrabhaya Singa Warmadewa – (960-975)

6. Janasadhu Warmadewa

7. Sri Wijayamahadewi

8. Dharmodayana Warmadewa (Udayana) – (988-1011)

9. Gunapriya Dharmapatni (bersama Udayana) – (989-1001)

10. Sri Ajnadewi

11. Sri Marakata – (1022-1025)

12. Anak Wungsu – (1049-1077)

13. Sri Maharaja Sri Walaprabu – (1079-1088)

14. Sri Maharaja Sri Sakalendukirana – (1088-1098)

15. Sri Suradhipa – (1115-1119)

16. Sri Jayasakti – (1133-1150)

17. Ragajaya

18. Sri Maharaja Aji Jayapangus – (1178-1181)

19. Arjayadengjayaketana

20. Aji Ekajayalancana

21. Bhatara Guru Sri Adikuntiketana

22. Parameswara

23. Adidewalancana

24. Mahaguru Dharmottungga Warmadewa

25. Walajayakertaningrat (Sri Masula Masuli atau Dalem Buncing?)

26. Sri Astasura Ratna Bumi Banten (Dalem Bedahulu) – (1332-1343)

27. Dalem Tokawa (1343-1345)

28. Dalem Makambika (1345-1347)

29. Dalem Madura

Sisa-sisa peninggalan dari kerajaan Bedahulu

Perlawanan kerajaan Bedulu terhadap Majapahit oleh legenda masyarakat Bali dianggap melambangkan perlawanan penduduk Bali asli (Bali Aga) terhadap serangan Jawa (Wong Majapahit). Beberapa tempat terpencil di Bali masih memelihara adat-istiadat Bali Aga, misalnya di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli; di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem; serta di desa-desa Sembiran, Cempaga Sidatapa, Pedawa, Tiga Was, Padangbulia di Kabupaten Buleleng.

Beberapa obyek wisata yang dianggap merupakan peninggalan kerajaan Bedulu, antara lain adalah pura Jero Agung, Samuan Tiga, Goa Gajah, termasuk didalamnya juga Pura Bukit Sinunggal.

Pura Bukit Sinunggal

Pura Bukit Sinunggal terletak di sebuah bukit, dengan ketinggian kurang lebih 600 meter diatas permukaan laut. Untuk sampai di utama mandala pura, kita harus menaiki 113 anak tangga sepanjang kurang 300 meter.

Menurut penuturan Pemangku Pura, para pemedek yang ingin tangkil ke pura ini harus terlebih dahulu membersihkan diri di Beji Pura Air Tabar, kemudian ke Pura Dasar Bhuwana, tempat melinggih-nya Batara Siwa Budha, barulah ke Pura Bukit Sinunggal.

Sebelum sampai di utama mandala, di areal paling bawah, terdapat sebuah candi bentar dengan dua buah apit lawang di kanan kirinya.Di pelataran ini terdapat sebuah pelinggih yang disebut dengan pelinggih empulawang, sebagai stana bhtara ratu bagus manik ulap. Sebelum menuju pura utama, hendaknya kita terlebih dahulu menghaturkan sembah di pelinggih ini. Secara sekala, pelinggih ini merupakan penjaga, sebelum memasuki areal tersuci pura.Dari areal ini kita dapat menaiki beberapa buah anak tangga yang akan mengantarakan kita menuju utama mandala. Di tengah perjanan, berdiri sebuah pelinggih yang disebut dengan pelinggih lebuh. Fungsi pelinggih ini adalah pengayatan ke bhatara segara.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, kita akan sampai di areal utama mandala pura bukit sinunggal.Sebelum masuk ke areal utama mandala, di sisi kanan pura berdiri sebuah bangunan terbuka yang berfungsi sebagai wantilan pura. Di sebelah wantilan terdapat sebuah pohon besar, dengan sebuah pelinggih aling aling, yang berfungsi sebagai penjaga. Melewati sebuah candi bentar, kita akan memasuki utama mandala pura bukit sinunggal. Suasana di mandala ini terasa begitu sejuk dan begitu tenang. Naungan beberapa pohon besar, semakin menguatkan kesan sakral kental dengan aroma kesucian.

Dengan luas sekitar dua puluh are, pelataran utama mandala pura bukit sinunggal dihiasi beberapa buah pelinggih, termasuk pelinggih utama pura. Berada di utama mandala, pandangan kita akan langsung tertuju pada sebuah meru tumpang tuju, yang dikelilingi tembok penyengker. Meru ini merupakan pelinggih pokok pura, stana dari ida ratu pucak sinunggal atau bhatara lingsir, yang bergelar Ida ratu manik astagina, sekaligus merupakan penguasa delapan penjuru mata angin. Adanya tembok penyengker yang mengelilingi meru bukannya tanpa alasan. Jelas ini menunjukkan bahwa tidak semua sembarang orang boleh memasuki areal meru, kesucian hati dan fikiran merupakan syarat mutlak untuk memuja beliau disini.

Di sebelah meru, berdiri sebuah padma yang merukan lingga stana Ida Hyang Pasupati. Tepat di depan padma, berdiri sebuah phon beringin besar dengan pelinggih yang ada dibawahnya sebagai stana ratu ayu mas melanting. Di sebelah pohon beringin, berdiri sebuah pelinggih sebagai pengayatan ratu gede dalem ped, dan pelinggih ratu ngurah tangkeb langit atau ratu wayan tebeng.Di sisi kanan meru berdiri beberapa pelinggih sebagai pengayatan sapta dewata yaitu pura lempuyang, besakih, batur, batukaru, andakasa, pucak mangu, dan beratan.Di mandala ini terdapat sebuah arca yang merupakan pengayatan ke segara majapahit.

Jeroan pura juga dilengkapi oleh beberapa bangunan pelengkap seperti gedong penyimpenan, bale gong, pesamuan dan bale dana punia.Piodalan adalah upacara pemujaan kehadapan Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasiNya lewat sarana pemerajan, pura kahyangan dengan ngelinggihang atau ngerekayang dalam hari hari tertentu. Hari piodalan suatu pura terkait dengan upacara peresmian pertama kali atau pemelaspas dan ngenteg linggih.Perhitungan piodalan di pura bukit sinunggal dilaksanakan berdasarkan pawukon dan wewaran, sehingga piodalannya jatuh pada purnamaning kapat, atau saat bulan Oktober. Pada piodalan itu Ida Batara nyejer selama 7 hari. Saat piodalan ribuan pemedek tangkil dari berbagai daerah.

Pura bukit sinunggal merupakan pura dengan masyarakat pangempon yang cukup besar. Pangempon pura ini berasal dari 11 desa, yang ada di kecamatan kubu tambahan, diantaranya adalah dari desa tajun, tunjung, depa, bayad, sembiran, pacung, bangkah, tamblang, tangkid, mangening, dan kelampuak. Di desa tajun sendiri pangempon pura berjumlah hampir 1500 kepala keluarga. Pangempon pura, merupakan penyangga utama pura, baik itu dari upakara dan upacara yang dilaksanakan rutin. Pemugaran pura yang dilaksanakan tahun 1990, merupakan swadaya dari masyarakat pangempon yang menghaturkan dana punia. Pura bukit sinunggal merupakan salah satu pura yang sangat sacral. Menurut penuturan mangku pura, bila akan terjadi bencana besar dari meru akan memancar sinar merah terang dan beberapa kali telah terbukti.

Tak heran jika banyak pemedek yang sengaja datang dari jauh untuk dapat tangkil di pura ini. Banyak Pemedek yang datang ke pura ini bermula dari mimpi mimpi. Sebagian datang untuk memohon obat maupun kesejatraan.Masyarakat yang datang ke pura bukit sinunggal berasal dari berbagai kalangan, dari pejabat sampai wisatawan asing yang menerima bisikan dari mimpi. Keberadaan pura bukit sinunggal sangat disucikan oleh masyrakat, ini terbukti dengan tidak diperbolehkannya wisatawan asing memasuki areal pura, kecuali akan melakukan persembahyangan.Pura bukit sinunggal merupakan salah satu pura yang sangat baik untuk melakukan meditasi, vibrasi suci yang mengalir kuat memancarkan kedamaian di setiap raga yang berada di parahyangan ini.

Ada satu hal menarik terkait dengan keberadaan Pura Bukit Sinunggal. Di pura ini pendiri kota Singaraja, Ki Barak Panji Sakti, pernah mengucapkan kaul. Kisahnya dimulai saat Panji Sakti hendak menyerang Blambangan pada abad ke-10. Ketika itu, menurut sejarah, dalam perjalanan menuju Blambangan, Panji Sakti kehilangan arah di lautan dan tidak melihat apa pun. Dalam kepanikan itulah ia memohon kepada Ida Batara Lingsir Manik Astagina Bukit Sinunggal agar diberi petunjuk jalan agar tidak tersesat. Untuk itu dia berkaul akan mengaturkan 6 ekor kerbau.

Selain itu, Pura Bukit Sinunggal juga sering disebut “Besakih”-nya Buleleng lantaran semua pelinggih yang ada di Besakih terdapat pula di pura ini. Menurut Jro Mangku, hal tersebut dikarenakan alasan teknis. Pada zaman dulu karena kesulitan kendaraan, masyarakat Bali Utara menemui hambatan bila hendak menuju Pura Besakih. Padahal mereka harus melaksanakan upacara meajar-ajar usai upacara ngaben ke Pura Besakih, Karangasem. Untuk mengatasi kesulitan perjalanan itu, dibuatkanlah pelinggih seperti di Besakih agar warga Bali Utara bisa menuntaskan upacaranya di Tajun saja.

Penutup

Demikian artikel yang penulis dapat penulis kerjakan untuk memperlengkap makalah ini penulis mencantumkan yaitu Penutup, berisikan tentang kesimpulan dan saran.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian terdahulu maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

a. Pura Pucak Bukit Sinunggal merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan yang ada di Bali Utara, Pura ini terletak di Desa Tajun, Kubutambahan. Pura ini merupakan salah satu sisa-sisa peninggalan Kerajaan Bedahulu. Berdasarkan prasasti Raja Sri Kesari Warmadewa tertanggal 19 Agustus 914, Pura Gunung Sinunggal yang dahulu disebut Hyang Bukit Tunggal terdapat di Desa Air Tabar, daerah Indrapura. Desa Indrapura kini disebut Desa Depaa. Sedangkan yang memelihara Pura Bukit Tunggal itu adalah Desa Air Tabar. Di desa itu terdapat tokoh-tokoh masing-masing Mpu Danghyang Agenisarma, Sri Naga, Bajra dan Tri.

b. Pura Bukit Sinunggal merupakan salah satu peninggalan sejarah dimana diperkirakan pura ini ada pada masa dimana sebuah kerajaan yang bernama “Kerajaan Bedahulu” berkembang dan mencapai kejayaannya. Kerajaan Bedahulu atau Bedulu adalah kerajaan kuno di pulau Bali pada abad ke-8 sampai abad ke-14, yang memiliki pusat kerajaan di sekitar Pejeng (baca: pèjèng) atau Bedulu, Kabupaten Gianyar, Bali. Diperkirakan kerajaan ini diperintah oleh raja-raja keturunan dinasti Warmadewa.

c. Pura Bukit Sinunggal terletak di sebuah bukit, dengan ketinggian kurang lebih 600 meter diatas permukaan laut. Terdapat sebanyak 113 anak tangga sepanjang kurang 300 meter agar bisa mencapai utama mandala Pura Bukit Sinunggal. Di areal paling bawah, terdapat sebuah candi bentar dengan dua buah apit lawang di kanan kirinya. Terdapat beberapa pelinggih berupa meru ataupun biasa seperti Pelinggih Ida Hyang Pasupati, Ratu Gede Macaling, dsb. Dengan luas areal sekitar dua puluh are dengan lingkungan sejuk, asri serta banyak ditumbuhi berbagai macam tumbuhan pegunungan yang menambah keindahan pura.

S a r a n

Adapun beberapa saran yang saya ajukan diantaranya :

a. Bagi generasi muda agar dapat menjaga dan melestarikan segala bentuk peninggalan bersejarah kita. Seperti halnya Pura Bukit Sinunggal dimana disamping sebagai tempat ibadah juga merupakan salah satu tempat bersejarah. Kita senantiasa menjaga kesucian pura itu sendiri baik kebersihan secara sekala maupun niskala.

b. Bagi masyarakat yang berada disekitar pura maupun yang akan melaksanakan ibadah atau juga berwisata ke Pura Bukit Sinunggal setidaknya harus taat dengan aturan adat setempat yang mengharuskan agar memakai setidaknya kain dan selendang apa bila memasuki kawasan atau areal pura. Juga diharapkan agar menjaga kebersihan pura baik niskala ataupun sekala.





Reproduksi Seksual & Aseksual

23 01 2009

Reproduksi Seksual ( Generatif )

Reproduksi biologis atau reproduksi seksual dalah suatu proses biologis penggunaan seks secara rutin dimana individu organisme baru diproduksi.

Reproduksi adalah cara dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis: seksual dan aseksual.

Dalam reproduksi aseksual, suatu individu dapat melakukan reproduksi tanpa keterlibatan individu lain dari spesies yang sama. Pembelahan sel bakteri menjadi dua sel anak adalah contoh dari reproduksi aseksual. Walaupun demikian, reproduksi aseksual tidak dibatasi kepada organisme bersel satu. Kebanyakan tumbuhan juga memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi aseksual.

Reproduksi seksual membutuhkan keterlibatan dua individu, biasanya dari jenis kelamin yang berbeda. Reproduksi manusia normal adalah contoh umum reproduksi seksual. Secara umum, organisme yang lebih kompleks melakukan reproduksi secara seksual, sedangkan organisme yang lebih sederhana, biasanya satu sel, bereproduksi secara aseksual.

Pada reproduksi seksual/generatif terjadi persatuan dua macam gamet dari dua individu yang berbeda jenis kelaminnya, sehingga terjadi percampuran materi genetik yang memungkinkan terbentuknya individu baru dengan sifat baru.

Pada organisme tingkat tinggi mempunyai dua macam gamet, gamet jantan atau spermatozoa dan gamet betina atau sel telur, kedua macam gamet tersebut dapat dibedakan baik dari bentuk, ukuran dan kelakuannya, kondisi gamet yang demikian disebut heterogamet.

Peleburan dua macam gamet tersebut disebut singami. Peristiwa singami didahului dengan peristiwa fertilisasi (pembuahan) yaitu pertemuan sperma dengan sel telur.

Pada organiseme sederhana tidak dapat dibedakan gamet jantan dan gamet betina karena keduanya sama, dan disebut isogamet. Bila salah satu lebih besar dari lainnya disebut anisogamet.

Reproduksi Aseksual ( Vegetatif )

Reproduksi Vegetatif adalah cara reproduksi makhluk hidup secara aseksual (tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina). Reproduksi Vegetatif bisa terjadi secara alami maupun buatan.

Vegetatif Alami

Vegetatif Alami adalah reproduksi aseksual yang terjadi tanpa campur tangan pihak lain seperti manusia.

Pada tumbuhan

* Umbi batang. Contoh: ubi jalar, kentang
* Umbi lapis. Contoh: bawang merah, bawang putih
* Umbi akar. Contoh: wortel, singkong
* Geragih atau stolon. Contoh: arbei, stroberi
* Rizoma. Contoh: lengkuas, jahe
* Tunas. Contoh: kelapa
* Tunas adventif. Contoh: cocor bebek

Pada hewan

* Tunas. Contoh: Hydra, Ubur-ubur, Porifera
* Fragmentasi. Contoh: Planaria, mawar laut
* Membelah diri. Contoh: Amoeba
* Parthenogenesis. Contoh: serangga seperti lebah, kutu daun

Vegetatif Buatan

Vegetatif Buatan adalah reproduksi aseksual yang terjadi karena bantuan pihak lain seperti manusia.

* Stek
* Cangkok
* Okulasi
* Enten
* Merunduk
* Kloning

Individu baru (keturunannya) yang terbentuk mempunyai ciri dan sifat yang sama dengan induknya. Individu-individu sejenis yang terbentuk secara reproduksi aseksual dikatakan termasuk dalam satu klon, sehingga anggota dari satu klon mempunyai susunan genetik yang sama.

Reproduksi aseksual dapat dibagi atas lima jenis, yaitu :

1. Fisi
2. Pembentukan spora
3. Pembentukan tunas
4. Fragmentasi
5. Propagasi vegetatif

1.
Fisi

Fisi terjadi pada organisme bersel satu. Pada proses fisi individu terbelah menjadi dua bagian yang sama.
Contoh :
– Pada pembelahan sel bakteri.
– Pada Plasmodum, reproduksi dengan fisi berganda, yaitu inti sel membelah berulang kali dan kemudian setiap anak inti dikelilingi sitoplasma. Proses ini disebut skizogoni, sel yang mengalami skizogoni disebut skizon.

2.
Pembentukan spora

Dibentuk di dalam tubuh induknya dengan cara pembelahan sel. Bila kondisi lingkungan baik, maka spora akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu baru, spora dihasilkan oleh jamur, lumut, paku, sporozoa (salah satu kelas protozoa) dan kadang-kadang juga dihasilkan oleh bakteri.

3.
Pembentukan tunas

Organisme tertentu dapat membentuk tunas, berupa tonjolan kecil yang akan berkembang dan kemudian mempunyai bentuk seperti induknya dengan ukuran kecil. Kemudian tunas ini akan lepas dari induknya dan dapat hidup sebagai individu baru. Pembentukan tunas merupakan ciri khas sel ragi dan Hydra (sejenis Coelenterata).

4.
Fragmentasi

Kadang-kadang satu organisme patah menjadi dua bagian atau lebih, kemudian setiap bagian akan tumbuh menjadi individu baru yang sama seperti induknya. Peristiwa fragmentasi bergantung pada kemampuan regenerasi yaitu kemampuan memperbaiki jaringan atau organ yang telah hilang. Fragmentasi terjadi antara lain pada hewan spons (Porifera), cacing pipih, algae berbentuk benang.

5.
Propagasi vegetatif

Istilah propagasi vegetatif diberikan untuk reproduksi vegetatif/tumbuhan berbiji. Pada proses propagasi bila bagian tubuh tanaman terpisah maka bagian tersebut akan berkembang menjadi satu/lebih tanaman baru. Propagasi vegetatif alamiah dapat terjadi dengan menggunakan organ-organ sebagai berikut :

a.

Stolon
Stolon adalah batang yang menjalar di atas tanah. Di sepanjang stolon dapat tumbuh tunas adventisia (liar), dan masing-masing tunas ini dapat menjadi anakan tanaman. Contoh: pada rumput teki, rumput gajah dan strawberi.

b.

Akar tinggal atau rizom
Rizom adalah batang yang menjalar di bawah tanah, dapat berumbi untuk menyimpan makanan maupun tak berumbi. Ciri rizom adalah adanya daun yang mirip sisik, tunas, ruas dan antar ruas. Rizom terdapat pada bambu, dahlia, bunga iris, beberapa jenis rumput, kunyit, lengkuas, jahe dan kencur.

c.

Tunas yang tumbuh di sekitar pangkal batang
Tunas ini membentuk numpun, misalnya: pohon pisang, pohon pinang dan pohon bambu.

d.

Tunas liar
Tunas liar terjadi pada tumbuhan yang daunnya memiliki bagian meristem yang dapat menyebabkan terbentuknya tunas-tunas baru di pinggir daun. Contoh: tunas cocor bebek (Kalanchoe pinnata) dan begonia.

e.

Umbi lapis
Umbi lapis adalah batang pendek yang berada di bawah tanah. Umbi lapis diselubungi oleh sisik-sisik yang mirip kertas. Contoh: tumbuhan lili, tulip dan bawang.

f.

Umbi batang
Umbi batang adalah batang yang tumbuh di bawah tanah, digunakan sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan sehingga bentuknya membesar. Pada umbi terdapat mata tunas – mata tunas yang
akan berkembang menjadi tanaman baru.
Contoh: kentang dan Caladium.

Kita mengenal tiga jenis reproduski sel, yaitu Amitosis, Mitosis dan Meiosis (pembelahan reduksi). Amitosis adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.

MITOSIS adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinarnakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.

PEMBELAHAN MITOSIS

Pembelahan mitosis menghasilkan sel anakan yang jumlah kromosomnya sama dengan jumlah kromosom sel induknya, pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh).

Sel – sel tersebut juga memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam melakukan pembelahannya, ada sel – sel yang mampu melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang tidak mengalami pembelahan sama sekalisetelah melewati masa pertumbuhan tertentu, misalnya sel – sel germinatikum kulit mampu melakukan pembelahan yang sangat cepat untuk menggantikan sel – sel kulit yang rusak atau mati. Akan tetapi sel – sel yang ada pada organ hati melakukan pembelahan dalam waktu tahunan, atau sel – sel saraf pada jaringan saraf yang sama sekali tidak tidak mampu melakukan pembelahan setelah usia tertentu. Sementara itu beberapa jenis bakteri mampu melakukan pembelahan hanya dalam hitungan jam, sehingga haya dalam waktu beberapa jam saja dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan sel bakteri. Sama dnegan bakteri, protozoa bersel tunggal mampu melakukan pembelahan hanya dalam waktu singkat, misalkan amoeba, paramecium, didinium, dan euglena.

Pada sel – sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap – tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel – sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase(tahap ) utama, yaitu interfase dan mitosis. Interfase terdiri atas 3 fase yaitu fase G, ( growth atau gap), fase S (synthesis), fase G2(growth atau Gap2).

Pembelahan mitosis dibedakan atas dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase, dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada dua sel anak hasil pembelahan.

1. Kariokinesis

Kariokinesis selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya. Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro tubulus dan sentriol. Cirri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:

a) Profase

Ø Benang – benang kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom membelah menjadi kromatid dengan satu sentromer.

Ø Dinding inti (nucleus) dan anak inti (nucleolus) menghilang.

Ø Pasangan sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan.

Ø Serat – serat gelendong atau benang – benang spindle terbentuk diantara kedua kutub pembelahan.

b) Metafase

Ø Setiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong melalui sentromer atau kinetokor.

c) Anaphase

Ø Sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju kekutub yang berlawanan. Pada akhir nanfase, semua kroatida sampai pada kutub masing – masing.

d) Telofase

Pada telofase terjadi peristiwa berikut:

1. Kromatida yang berada jpada kutub berubah menjasadi benang – benangkromatin kembali.
2. Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk dua inti baru.
3. Serat – serat gelendong menghilang.
4. Terjadi pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya , terbentuk dua sel anak yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.

Hasil mitosis:

1. Satu Sel induk yang diploid (2n) menjadi 2 sel anakan yang masing – masing diploid.
2.Jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya.

2 Sitokinesis

Selama sitokinesis berlangsung, sitoplasma sel hewan dibagi menjadi dua melalui terbentuknya cincin kontraktil yang terbentuk oleh aktin dan miosin pada bagian tengah sel. Cincin kontraktil ini menyebabkan terbentuknya alur pembelahan yang akhirnya akan menghasilkan dua sel anak. Masing – masing sel anak yang terbentuk ini mengandung inti sel, beserta organel – organel selnya. Pada tumbuhan, sitokinesis ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah – tengah sel. Tahap sitokinesis ini biasanya dimasukkan dalam tahap telofase.

Keterangan:
(a) Sitokinesis pada hewan
(b) Sitokinesis pada tumbuhan

Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.

Meiosis terbagi menjadi due tahap besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II Baik meiosis I maupun meiosis II terbagi lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :

Berbeda dengan pembelahan mitosis, pada pembelahan meiosis antara telofase I dengan profase II tidak terdapat fase istirahat (interface). Setelah selesai telofase II dan akan dilanjutkan ke profase I barulah terdapat fase istirahat atau interface.

sel gonad

Pada hewan dikenal adanya peristiwa meiosis dalam pembentukan gamet, yaitu Oogenesis dan Speatogenesis. Sedangkan pada tumbahan dikenal Makrosporogenesis (Megasporogenesis) dan Mikrosporogenesis.





Halo dunia!

23 01 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.